Tentang Valentine Day

Valentine Day bermula dari bangsa Romawi. Terdapatlah suatu upacara yang mereka namakan Luppercalia. Peringatan itu untuk menghormati Juno (Tuhan wanita dan perkawinan) serta Pan (Tuhan dari alam ini) menurut keyakinan mereka. Acara tersebut berisi pesta orang-orang muda pria dan wanita yang memilih pasangannya masing-masing dengan menuliskan nama mereka dan dimasukkan dalam jambangan dan kemudian di undi. Pasangan-pasangan itu saling tukar kado seperti pernyataan cinta kasih.

Acara itu dilanjutkan dengan pesta hura-hura bersama dengan pasangannya masing-masing.

Setelah penyebaran Kristen, pada tahun 496 Masehi, Paus Gelasius mengganti peringatan Luppercalia menjadi Saint Valentine Day, yaitu hari kasih sayang untuk orang-orang suci dengan memindahkan harinya pada tanggal 14 Februari sebagai penghormatan bagi seorang pendeta Kristen yang di hukum mati pada tanggal tersebut. Dalam kisahnya, Saint Valentine yang hidup di Roma saat pemerintahan Kaisar Cladius II (268 – 270 Masehi) di tangkap dan dimasukkan ke dalam penjara karena tuduhan membantu salah satu pihak untuk memusuhi dan mengejar-ngejar orang Kristen. Ia akhirnya di hukum mati pada tahun 270 Masehi oleh orang Romawi di bukit Palatine dekat altar Juno. Dalam kaitannya dengan Valentine Day, banyak orang yang mengaitkannya dengan Saint Valentine yang lain, yaitu seorang Bishop di Terni, suatu tempat 60 mil dari Roma. Ia di kejar-kejar karena memasukkan suatu keluarga Romawi ke dalam agama Kristen. Ia kemudian di pancung di Roma sekitar tahun 273 Masehi. Meskipun dalam peringatan Valentine Day para ahli sejarah tidak setuju dengan adanya upaya untuk menghubungkan kisah itu dengan acara perayaan itu, namun hingga sekarang acara tersebut masih diperingati. Bahkan perayaan Valentine Day dibudayakan dalam masyarakat selain Kristen.

Waspadalah kaum Muslimin !!

Banyak musuh-musuh Islam yang berusaha untuk menghancurkan Islam dengan menjauhkan pemeluknya terhadap apa yang menjadi pandangan dan pedoman hidupnya, yaitu Al Qur’an dan Hadits.

Firman Allah dalam Al Qur’an :

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah (agama/ajaran) mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Qs. Al Baqarah : 120).

Goldstein, seorang tokoh pangeran Belanda yang terkenal sebagai tokoh orientalis berkata : “Kita tidak mungkin menghancurkan ummat Islam dengan kekuatan fisik dan senjata. Kita berperang mencari kemenangan, tapi mereka berperang mencari kematian. Hanya satu hal yang bisa kita lakukan, yaitu mengupayakan jangan sampai Al Qur’an tetap di pegang mereka dalam kehidupannya. Karena disanalah letak kekuatan mereka.”

Dengan cara demikian mereka berusaha memasukkan model kehidupan barat terhadap ummat Islam. Setelah ummat Islam mengikuti kebudayaan barat, maka dengan sukarela dan tidak terasa ummat Islam akan meninggalkan ajaran-ajaran Al Qur’an. Usaha mereka adalah jangan sampai ajaran Al Qur’an dapat teraplikasi dalam kehidupan ummat Islam, sehingga dalam kehidupan ummat Islam mencari bentuk kehidupan yang lain. Sasaran utama mereka adalah millah yang akan dihancurkan dengan jalan segala aspek yang bisa menunjang untuk terealisasinya rencana tersebut. Valentine Day adalah dalam satu sistem millah mereka.

Sabda Rasulullah Saw : “Sungguh, kamu akan mengikuti (pada suatu saat) jalan (tata cara) bangsa-bangsa yang pernah ada di masa lalu., sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai ketika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pun mengikutinya. “Para sahabat bertanya, “Apakah yang engkau maksud disini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah Saw menjawab : “Ya, siapa lagi!” (HR. Bukhari dari Abi Sa’id Al-Khudry).

Dalam upaya memasukkan kepada kebudayaan barat yang membawa misi Yahudi dan Kristen, maka timbullah Valentine Day, pesta ulang tahun dan atributnya, persamaan hak pria dan wanita tanpa batas fitrah, mode dan sebagainya.

Islam telah melarang kaum Muslimin untuk mengikuti tata cara ibadah/kepercayaan agama lain. Maka ummat Islam harus waspada dan selektif, karena mereka menggunakan berbagai cara untuk tercapai misinya.

“….. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang dzalim.” (Qs. Al Baqarah : 145).

(dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s